Sabtu, 04 Juni 2011

Akhirussanah


Pada tanggal 3 juni 2011, tepatnya hari jum'at malam sabtu MTs. A. Al-Islah menggelar pengajian akbar dengan mubaligh kondang dari demak KH. Abdur Rochim, S.Pd.I atau yang sering disebut-sebut dengan Ki Joko Goro-Goro. Yang dalam pidatonya menggunakan wayang kulit sebagai sarana dalam berpidato.

Acara pada malam itu pun sangat ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai kalangan, serta dari berbagai pelosok desa. Acara tersebut turut mengundang Wakil Bupati Ponorogo, Kepala Kecamatan Bungkal beserta jajarannya, dan masih banyak lagi.

Area yang kurang luas membuat masyarakat yang datang harus rela berdesak-desakan. Akan tetapi semua itu tidak membuat masyarakan hilang semangat. Pada malam itu juga banyak orang-orang yang berjualan disekitar area Akhirussanah MTs. A. Al-Islah.

Dan pada malam itu KI Joko Goro-Goro mengambil sebuah judul yaitu: "Kewajiban Orang Tua Pada Anaknya". Biar pun pidato dari sang Kyai tidak begitu lama, akan tetapi masyarakat sudah cukup puas. karena pidato Beliau sangat berbobot dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat di zaman sekarang ini.

Selasa, 31 Mei 2011

Gunung Pegat (Glali) Bungkal



Gungung Pegat atau yang sering disebut-sebut oleh masyarakat Bungkal sebagai Glali, ini terletak di desa Nambak, yang menghubungkan antara kecamatan Bungkal dengan kecamatan Slahung. Konon terdapat sebuah cerita yang bisa dianggap mistis. Kata penduduk disekitar Gunung Pegat, apabila ada pengantin yang baru menikah tidak diperbolehkan lewat situ. Dikarenakan apabila lewak situ, maka dalam waktu singkat akan mengalami perceraian.

Awal mulanya disebut sebagai Gunung Pegat karena setiap pengantin baru yang melewati jalan disitu akan mengalami perceraian (dalam bahasa jawa pegatan). Tapi ada pula yang berpendapat bahwa bentuk gunung yang dibelah oleh sebuah jalan. Karena itu disebut sebagai Gunung Pegat.

Sedangkan penduduk yang menyebutnya sebagai "Glali", konon ceritanya, ada seorang Ratu yang bernama Ratu Bakah. Pada waktu itu Ratu Bakah diserang oleh musuh yang jumlahnya sangat banyak di daerah Kambeng Slahung. Sehingga sampai sekarang daerah tersebut dikenal dengan sebutan desa Kambeng. Kemudian Ratu Bakah berlari sampai di Gunung Pegat. Disitu Sang Ratu lupa arah. Sehingga daerah tersebut sampai sekarang dikenal dengan sebutan Glali. Setelah itu Ratu Bakah berlari terus ke timur, sehingga Ratu Bakah sampai ke bungkal. Sampai situ Ratu Bakah ingat arah kembali, sehigga daerah itu disebut sebagai bungkal (nyambung akal) yang sampai sekarang menjadi sebuah kecamatan.

Sedangkan jalan yang membelah gunung tersebut sampai sekarang belum diketahui kapan pembuatannya. Tapi menurut masyarakat disekitar desa Nambak jalan tersebut dimakadam pada tahun 1971. Dan di aspal sekitar tahun 1980-an.

Sabtu, 28 Mei 2011

SPBU Pertamina Bungkal


Terletak pada tempat yang strategis, membuat kecamatan Bungkal terlihat lebih indah dengan hadirnya sebuah SPBU di kecamatan Bungkal. Dan memudahkan penduduk Bungkal untuk mengisi bahan bakar pada kendaraan mereka. SPBU ini bertempat pada Jalan Raya Bungkal - Banggel, desa Bungkal kecamatan Bungkal. Tepatnya perempatan Bungkal ke barat kurang lebih 200 meter. SPBU yang mempunyai daftar 54.634.22 ini mempunyai luas area yang cukup mendukung, yaitu 1000 meter persegi. Area yang lumayan luas juga kan?

SPBU Bungkal ini disahkan pada tanggal 1 Desember 2007. Pemilik resmi SPBU Bungkal ini adalah Bapak Bambang Sutejo dan Bapak Khoirul Marsudi. Karyawan yang bekerja pada SPBU ini sebanyak 9 orang karyawan. Yaitu: Dani sebagai koordinator yang mengkoordinatori Pujo, Bayu, Damin, Supriyono, A. Wahyudi, Agung, Taryono, dan Didik R.

Fasilitas di SPBU Bungkal ini meliputi: Premium, Solar, Pertamax, Pelumas, Prima XP, Mushola, dan Toilet. Dan yang sangat mendukung di SPBU Bungkal ini menggunakan sistem "PASTI PAS!"

Kamis, 26 Mei 2011

Reog Ponorogo (Martopuro Bungkal)


Pada hari rabu tanggal 25 mei 2011 merupakan hari yang bersejarah bagi desa Bungkal kecamatan Bungkal. Betapa tidak, pada waktu itu merupakan acara pelantikan kepala desa Bungkal Bapak Sapto Priyono, M.Pd. Yang dihadiri oleh Bapak Bupati Ponorogo Bapak H. Amin, SH.

Dan untuk memeriahkan acara bersejarah itu kepala desa mengundang kelompok seni reog dari dukuh Kudo desa Bungkal kecamatan Bungkal. Reog ditampilkan pada hari kamis tanggal 26 mei 2011, tepatnya sehari setelah pelantikan kepala desa.

Tampilnya reog di desa Bungkal ini menambah keceriaan tersendiri didaerah tersebut. Dalam kalangan seni reog tersebut melibatkan 2 reog, 6 jatil, 2 bujang ganong, 8 warok, dan 1 klana sewandana.

Tampilan reog semakin terlihat menarik nan indah dengan adanya pemain (tukang mbarong) yang melakukan aksi mengebat-ngebatkan reog. Pada waktu itu, reog-an dimulai pada pukul 13.00 WIB dan berakhir pada pukul 17.00 WIB. Reog berjalan dari dukuh Jintab desa Bungkal menuju ke depan rumah kepala desa Bungkal, dan berakhir di depan rumah kepala desa Bungkal.

Rabu, 25 Mei 2011

Tempe Kripik Bu Sri Bungkal


Tanpa terasa sudah berpuluh-puluh tahun Bu Sri menggeluti pekerjaan pembuatan tempe kripik. Alhamdulillah dengan pekerjaan Beliau dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga selesai.

Membuat tempe kripik telah menjadi mata pencarian utama Bu Sri, karena di zaman yang semakin ketat persaingannya ini, sangat sulit mendapatkan pekerjaan, menjadi abdi negara atau menjadi karyawan di perusahaan besar hanyalah mimpi beleka.

Setiap hari, ketika terbit fajar, Bu Sri memulai aktifitasnya sehari-hari. Yaitu membuat tempe kripik. Bahan baku pembuatan tempe kripik ini sederhana sekali, hanya membutuhkan kedelai yang sudah digiling, tepung beras, kanji, dll.

Untuk ruang kerja, Bu Sri membuatkan tempat khusus di blakang rumah. Tempatnya sangat sederhana. Yang penting cukup untuk mengolah semua bahan-bahan untuk membuat sebuah tempe kripik.

Di ruang sederhana itulah Bu Sri membentuk tempe kripik, mulai dari mengukus kedelai, menggiling, membuat bumbu-bumbu yang akan digunakan sebagai campuran pembuatan tempe. Sehingga berbagai keperluan pembuatan sudah tersedia disitu, termasuk untuk mencitak tempe.

Dalam satu hari Beliau dapat menghasilkan ratusan bungkus tempe yang siap dijual ke toko-toko yang telah menjadi langganan atau kepada pemesan. Harga yang ditawarkan tidaklah terlalu mahal, satu bungkus yang ukuran kecil hanya dijual dengan harga 2000 per bungkus, sedangkan yang berukuran sedang dijual 2500 per bungkus, untuk yang berukuran besar dijual 3000 per bungkus. Kami juga menerima pesanan. Anda dapat menghubungi kami di nomer HP 081335521230

Minggu, 22 Mei 2011

Sangkar Burung di Desa Ketonggo Kecamatan Bungkal


Ketonggo adalah sebuah desa di kecamatan Bungkal, Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. Desa Ketonggo merupakan desa Agraris yang terletak 20 KM arah selatan Kota Ponorogo, Jawa Timur. Desa Ketonggo merupakan sentra kerajinan bambu dengan berbagai item terutama sangkar burung.

Sangkar burung, tak ubahnya figura. Sebuah lukisan akan terangkat kualitasnya bila didukung figura yang sesuai dan berkelas. Hal ini berlaku pula pada seekor burung. Seekor burung akan terlihat berbobot bila berada di sangkar yang pas dan bagus. Apalagi burung tersebut derkuku, puter, poksay, cucakrowo, perkutut dan yang sekelasnya.

Dalam pembuatan sangkar burung menggunakan bahan baku bambu apus, kayu sengon laut, tampar agel dan rotan. Agar hasil sangkar bertambah bagus maka perlu ditambah asesoris seperti mahkota, kaki, gantungan dan thangkringan (tempat pijakan burung). Selera pasar akan sangkar burung cenderung berubah-ubah. Apalagi pasca lomba. Pasti ada sangkar burung yang menjadi trend saat itu. Biasanya pada finishingnya. Pada bagian atas sangkar ada lukisan yang menjadi simbol trend. Seperti Naga, Arwana, Phoenix, Jatayu dan sebgainya, yang biasa dilukis secara halus dengan menggunakan airbrush

Minggu, 15 Mei 2011

Kecamatan Bungkal


Mayoritas penduduk kecamatan Bungkal adalah petani. Di kecamatan Bungkal, terdapat sebuah telaga kecil yang terlatak di Desa Pager yang menjadi obyek wisata di Kecamatan Bungkal. Telaga tersebut terkenal dengan sebutan "Sendang Bulus". Telaga kecil ini dulu pernah mengalami kerusakan yang sangat parah. Setelah itu pemerintah mengadakan renovasi pada tempat tersebut. Kemudian di sah kan lagi pada tanggal 1 Januari 2003 sebagai tempat wisata. Hasil bumi di kecamatan Bungkal, antara lain: ketela, padi, jagung, cabai, dan sayur sayuran.

Produk Unggulan Kecamatan Bungkal adalah: kerajinan sangkar burung yang berkembang di desa Ketonggo, Nambak, Kalisat dan Padas. Sentra industri sangkar Burung di desa Ketonggo telah memproduksi berbagai macam sangkar burung yang dikirim ke Jakarta, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Madiun, Malang, dan Bali.

Desa-desa di Kecamatan Bungkal:
Bancar · Bedi Kulon · Bedi Wetan · Belang · Bekare · Bungkal · Bungu · Kalisat · Ketonggo · Koripan · Kunti · Kupuk · Kwajon · Munggu · Nambak · Padas · Pager · Pelem · Sambilawang

Luas wilayah Kecamatan Bungkal: 32876 hektar
Jumlah penduduk: 34.525 jiwa

Terletak di Ponorogo bagian selatan.
Batas Utara : Kecamatan Balong dan Jetis
Batas Barat : kecamatan Slahung
Batas Selatan: kecamatan Ngrayun
Batas Timur : kecamatan Sambit.